Hartas Norman Bela (230210080054)
Cuncun Hendrayana (230210080070)

B. DAFTAR ISTILAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN EKOLOGI LAUT TROPIS

Biodiversitas adalah suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu.
Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton.
Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia.
Predator adalah binatang yang berburu dan memangsa binatang lain atau pemangsa.
Siklus Biogeokimia adalah siklus unsur atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik.
Abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak. Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.
Siklus Karbon adalah siklus biogeokimia dimana karbon dipertukarkan antara biosfer, geosfer, hidrosfer, dan atmosfer Bumi
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.

Hutan Hujan adalah hutan tropis yang banyak menerima hujan. Biasanya memiliki banyak tanaman dan hewan.
Hutan Sabana adalah padang rumput dengan diselingi oleh pepohonan.
Ekosistem Alam adalah suatu system ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya atau alam sekitarnya.
Ekosistem Buatan adalah suatu system ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungan yang dibuat oleh manusia.
Ekosistem Akuatik adalah suatu system ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya yang berada di wilayah air.
Niche adalah suatu profesi mahluk hidup.
Pesisir adalah daerah pertemuan darat dan laut.
Estuaria adalah perairan semi tertutup dimana air laut dengan salinitas tinggi dapat bertemu dengan air tawar.
Mangrove adalah tumbuhan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut.
Feeding Ground adalah tempat mencari makan ikan atau biota air
Spawning Ground adalah tempat pemijahan
Gas Rumah Kaca adalah gas-gas yang ada di atmosfer yang menyebabkan efek rumah kaca. Gas-gas tersebut sebenarnya muncul secara alami di lingkungan, tetapi dapat juga timbul akibat aktivitas manusia.

Organoklorin dalam
kimia organik, klorin adalah sebuah cincin aromatik heterosiklik yang terdiri dari tiga pirola dan satu pirolina yang bergandengan melalui empat tautan metina. Tidak seperti porfirin, klorin tidaklah aromatik pada keseluruhan cincin walaupun memiliki komponen pirola yang aromatik.
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos (“habitat”) dan logos (“ilmu”). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya.

PERUBAHAN SIKLUS MAKANAN AKIBAT PERUBAHAN FUNGSI LAHAN PESISIR DI PESISIR KABUPATEN SUBANG
1. Kondisi Geografis
Kabupaten Subang sebagai salah satu kabupaten di kawasan utara Provinsi Jawa Barat meliputi wilayah seluas 205.176,95 ha atau 6,34 % dari luas Provinsi Jawa Barat. Wilayah ini terletak di antara 107º 31′ sampai dengan 107º 54′ Bujur Timur dan 6º 11′ sampai dengan 6º 49′ Lintang Selatan.
Secara administratif, Kabupaten Subang terbagi atas 253 desa dan kelurahan yang tergabung dalam 22 kecamatan. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Subang Nomor 3 Tahun 2007 tentang Pembentukan Wilayah Kerja Camat, jumlah kecamatan bertambah menjadi 30 kecamatan.

Batas-batas wilayah administratif Kabupaten Subang adalah di sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bandung Barat, di sebelah barat dengan Kabupaten Purwakarta dan Karawang, di sebelah timur dengan Kabupaten Sumedang dan Indramayu dan Laut Jawa yang menjadi batas di sebelah utara.
2. Potensi Perikanan Kabupaten Subang
Potensi lahan tambak di Kabupaten Subang pada tahun 2008 yang baru dimanfaatkan tercatat seluas 10.072,30 ha meliputi jenis lahan yang terdiri dari tanah milik (2.176,37 ha), tanah timbul (1.642,45 ha) dan tanah perhutani (6.253,48 ha), tersebar di Kecamatan Sukasari, Pusakanagara, Legonkulon dan Blanakan. Produksi ikan tambak yang dicapai pada tahun 2008 sebesar 10.140,40 ton, dengan nilai produksi sebesar 142.972.239.500 rupiah. Peluang usaha budidaya laut di Kabupaten Subang ini sangat besar sebab panjang pantai mencapai 68 km potensial untuk pengembangan usaha budidaya laut.
Komoditas yang sangat cocok untuk dikembangkan adalah Rumput Laut (Euchema spp), Kakap (Lates carcarifer), Kerapu (Ephinephelus spp), Udang Windu (Paneus monodon), Udang Putih (Paneus marguensis), Bandeng (Channos channos) dan Kerang-kerangan serta jenis ikan lainnya. Seiring dengan besarnya peluang usaha tambak, maka peluang usaha pembenihan (hatchery) pun sangat luas.
Potensi sumber daya ikan laut hasil tangkapan (non budidaya) di Kabupaten Subang pada tahun 2008 mencapai 18.036,10 ton, dengan nilai produksi sebesar 148.419.066.900 rupiah. Sarana usaha yang digunakan adalah perahu layar, motor tempel dan kapal dengan alat tangkap berupa pancing, jaring (gill net), purse seine, dan payang.

3. Potensi Ekosistem Mangrove Kabupaten Subang
Mangrove adalah vegetasi yang tumbuh pada tanah lumpur di dataran rendah di daerah batas pasang-surutnya air, tepatnya daerah pantai dan sekitar muara sungai. Tumbuhan tersebut tergenang di saat kondisi air pasang dan bebas dari genangan di saat kondisi air surut. Mayoritas pesisir pantai di daerah tropis & sub tropis didominasi oleh tumbuhan mangrove. Tumbuhan mangrove merupakan ekosistem peralihan atau dengan kata lain berada di tempat perpaduan antara habitat pantai dan habitat darat yang keduanya bersatu di tumbuhan tersebut. Pada hutan mangrove: tanah, air, flora dan fauna hidup saling memberi dan menerima serta menciptakan suatu siklus ekosistem tersendiri. Hutan mangrove sangat berbeda dengan tumbuhan lain di hutan pedalaman tropis dan subtropis, ia dapat dikatakan merupakan suatu hutan di pinggir laut dengan kemampuan adaptasi yang luar biasa. Akarnya, yang selalu tergenang oleh air, dapat bertoleransi terhadap kondisi alam yang ekstreem seperti tingginya salinitas dan garam. Hal ini membuatnya sangat unik dan menjadi suatu habitat atau ekosistem yang tidak ada duanya.

Ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrien dan bahan organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus laut. Sedangkan ekosistem lamun berfungsi sebagai penghasil bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang. Selain itu, ekosistem lamun juga berfungsi sebagai penjebak sedimen (sedimen trap) sehingga sedimen tersebut tidak mengganggu kehidupan terumbu karang. Selanjutnya ekosistem terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak (gelombang) dan arus laut. Ekosistem mangrove juga berperan sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi organisme yang hidup di padang lamun ataupun terumbu karang.
4. Analisis Permasalahan Pesisir Kabupaten Subang
• Perubahan fungsi lahan dari pantai pasir menjadi lahan pertambakan (terlihat pada landsat 1990 dengan spot 2003).
Potensi pertambakan Kabupaten Subang yang mempunyai peluang usaha yang sangat besar membuat masyarakat Kabupaten Subang banyak merubah fungsi lahan pantai pasir menjadi area pertambakan tanpa melihat dampak ekologis yang terjadi.

• Berkurangnya hutan bakau sebanyak 6.000 batang di Legan kulon dan Pusakanagara (Rakornis, 2002).
Dampak dari aktivitas masyarakat Kabupaten Subang yang merubah fungsi lahan pantai pasir menjadi area pertambakan berdampak pula pada ekosisitem mangrove yang ditebang untuk kepentingan pembuatan tampak tersebut.
• Abrasi pantai sepanjang 5 m/thn di Legan kulon dan Pusakanagara dan timbulnya tanah timbul di Pamanukan; pada tahun 1999 tercatat bahwa di Kabupaten Subang terjadi tanah timbul 3.441 Ha dan tahun 2002 tercatat 6.000 Ha, sedangkan tanah yang hilang seluas 164 Ha (tahun 1999).
Dampak terparah dari perubahan fungsi lahan yang terjadi di Kabupaten Subang adalah terjadinya abrasi yang luas akibat tidak adanya ekosistem mangrove yang berfunsi sebagai vegetasi yang dapat meminimalisir terjadinya abrasi.
• Potensi pencemaran dari ceceran solar perahu nelayan di blanakan.
Pencemaran dari aktivitas perahu nelayan yang membuang ceceran solar dapat berdampak kerusakan ekosistem mahkluk hidup yang berada di kawasan perairan Kabupaten Subang.
• Perubahan terhadap Siklus makanan yang parah.
Sebelum terjadinya perubahan lahan pantai pasir menjadi area pertambakan di kawasan pesisir Kabupaten Subang. Ekosistem mangrove merupakan produsen utama dalam siklus makanannya. Kemudian daun, batang bahkan bunga yang jatuh berubah menjadi detritus dan bakteri, yang dimana detritus juga terbentuk dari limbah manusia juga kemudian dikonsumsi oleh ikan kecil dan kepiting, ikan kecil dimakan ikan besar dan burung, ikan besar dikonsumsi oleh manusia.
Setelah terjadinya perubahan lahan pantai pasir menjadi area pertambakan di kawasan pesisir Kabupaten Subang. Ekosistem mangrove berkurang, tapi limbah yang dihasilkan oleh manusia tetap bahkan bertambah sehingga terjadi pencemaran dan menyebabkan perubahan dalam siklus makanannya, akibat kondisi yang seperti ini limbah yng terus bertambah denagn tidak adanya mangrove yang bersifat menetralkannya maka perairan tersebut tercemar, dari limbah ini terbentuk detritus yang nantinya akan dikonsumsi oleh ikan kecil dan kepiting yang ikut tercemar kemudian ikan kecil dikonsumsi oleh ikan besar dan burung, lalu iakan besar dikonsumsi manusia yang dimana ikan besar tersebut sudah tercemar oleh limbah yang tidak sehat apabila dikonsumsi oleh manusia.

Perkembangan Perubahan Fungsi Lahan di Kabupaten Subang
Fungsi Lahan Luas Lahan (Ha)
1990 2003
Hutan rawa 2.983,07 2783,33
Tambak 6.509,54 7.461,37
Sumber : BPLHD Prop. Jawa Barat, 2004

Rantai Makanan
Pada Kawasan Pesisir Kabupaten Subang, Jawa Barat

(Sebelum Terjadi konversi Lahan Pesisir)
Rantai Makanan
Pada Kawasan Pesisir Kabupaten Subang, Jawa Barat

(Sesudah Terjadi konversi Lahan Pesisir)

Matahari, Atmosfer dan Perubahan Iklim

Energi matahari (radiasi) mempengaruhi suaca dan iklim di bumi namun tidak semua panas yang di pancarkan oleh energi matahari di terima oleh bumi karena di bumi terdapat lapisan yang bernama atmosfer dan di dalam atmosfer terdapat gas rumah kaca.

Gas Rumah Kaca (GRK) seperti CO2 (Karbon dioksida),CH4(Metan) dan N2O (Nitrous Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbons), PFCs (Perfluorocarbons) and SF6 (Sulphur hexafluoride) yang berada di atmosfer dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkitan tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, memasak. Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer.

Dari semua energi matahari yang menuju permukaan bumi, satu pertiga dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer dan permukaan bumi itu sendiri. Pada permukaan bumi terdapat alju, gunung es, dan gurun yang memantulkan kembali energi matahari yang sapai ke bumi. Dan dua pertiga yang tidak di pantulkan diserap oleh atmosfer serta permujaan bumi itu sendiri, sehingga suhu bumi terjaga.

Bumi menjaga kestabilan suhunya dengan cara memantulkan atau memancarkan kembali panas yang telah diserap dalam bentuk radiasi gelombang pendek dan radiasi gelombang pendek tersebut diserap oleh atmosfer (gas rumah kaca). kemudian gas rumah kaca memantulkan kembali panas kebumi kejadian ini disebut dengan efek rumah kaca. Denagan adanya gas rumah kaca suhu di bumi menjadi hangat sekitar 14 derjat celcius dan tanpa efek rumah kaca bumi kta menjadi dingin dengan suhu -19 derjat celcius.

Atmosfer sangat berperan penting terhadap menjaga kestabilan suhu di bumi dan menariknya, atmosfer hanya membiarkan ditembus oleh sinar yang tidak berbahaya dan berguna seperti sinar tampak, sinar ultraviolet tepi serta gelombang radiasi.
Atmosfir ada disekitar kita, ia adalah udara yang kita hirup. GRK diatmosfir berfungsi serupa dengan panel-panel gelas di rumah kaca. Seperti yang telah diterangkan diatas sinar matahari memasuki atmosfir Bumi, melalui lapisan gas-gas rumah kaca. Setelah mencapai seluruh permukaan bumi, tanah, air, dan ekosistem lainnya menyerap energi dari sinar tersebut. Setelah terserap, energi ini akan dipancarkan kembali ke atmosfir. Sebagian energi dikembalikan ke angkasa, tetapi sebagian besar ditangkap oleh gas-gas rumah kaca di atmosfir sehingga menyebabkan Bumi menjadi lebih panas.
Efek Rumah Kaca memegang peran penting dalam kelangsungan hidup manusia di Bumi. Tanpa adanya efek tersebut, Bumi akan terlalu dingin untuk ditempati. Namun sebaliknya, apabila efek tersebut terlalu kuat, Bumi akan menjadi lebih hangat dari semestinya dan akan timbul masalah baru bagi kehidupan manusia, tumbuhan, dan binatang

Namun kesetimbangan panas yang sudah terjaga dengan baik oleh bumi dirusak oleh ulah kita sendiri. Rusaknya kesetimbangan panas bumi karena aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil yang berlebih, aktivitas industri, penggundulan hutan dan pembakaran hutan itu semua menyebabkan meningkatnya gas rumah kaca yang ada di atmosfer.

Dengan meningkatnya gas rumah kaca suhu di bumi menjadi panas dan karena tingginya gas rumah kaca di atmosfer menyebabkan perubah iklim di bumi.

Sebenarnya apa yang dimagsud dengan perubahan iklim dan apa sih iklim itu???
Iklim adalah rata-rata dan variasi temperatur, penguapan, presipitasi dan angin selama periode tertentu yang berkisar dalam hitungan bulan hingga jutaan tahun. Dan iklim di bumi dipengaruhi oleh kesetimbangan panas bumi dan panas yang bekerja di bumi adalah radiasi. Radiasi berasal dari matahari.
Maka dapat disimpulan bahwa perubahan iklim adalah perubahan variasi temperature bumi yang diakibatkan radiasi yang berasal dari matahari.
Perubahan iklim sangat dipengaruhi oleh gas rumah kaca (GRK). Berubahnya komposisi GRK di atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan manusia menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa, sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh GRK tadi. Meningkatnya jumlah emisi GRK di atmosfer pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, yang kemudian dikenal dengan Pemanasan Global.

perubahan iklim menyebabkan terjadinya kenaikan suhu, mencairnya es di kutub, meningkatnya permukaan laut, bergesernya garis pantai, musim kemarau yang berkepanjangan, periode musim hujan yang semakin singkat, namun semakin tinggi intensitasnya, dan anomaly-anomali iklim seperti El Nino – La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD). Hal-hal ini kemudian akan menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau dan berkurangnya luas daratan, pengungsian besar-besaran, gagal panen, krisis pangan, banjir, wabah penyakit, dan lain-lainnya.

Konsumsi total bahan bakar fosil di dunia meningkat sebesar 1 persen per-tahun. Langkah-langkah yang dilakukan atau yang sedang diskusikan saat ini tidak ada yang dapat mencegah pemanasan global di masa depan. Tantangan yang ada saat ini adalah mengatasi efek yang timbul sambil melakukan langkah-langkah untuk mencegah semakin berubahnya iklim di masa depan.

Kerusakan yang parah dapat diatasi dengan berbagai cara. Daerah pantai dapat dilindungi dengan dinding dan penghalang untuk mencegah masuknya air laut. Cara lainnya, pemerintah dapat membantu populasi di pantai untuk pindah ke daerah yang lebih tinggi. Beberapa negara, seperti Amerika Serikat, dapat menyelamatkan tumbuhan dan hewan dengan tetap menjaga koridor (jalur) habitatnya, mengosongkan tanah yang belum dibangun dari selatan ke utara. Spesies-spesies dapat secara perlahan-lahan berpindah sepanjang koridor ini untuk menuju ke habitat yang lebih dingin.

Ada dua pendekatan utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.ofm-jpc.org/globalwarming/pdf/indonesia.pdf
hhtp://www.greenpeace.org/seasia/id/campigns/perubahan-iklim-global
http://infoenergi.wordpress.com/2007/05/12/perubahan-iklim-apa-dan-bagaimana/
http://dokternasir.web.id/2009/03/penyebabdampaksecaraglobal.html
http://unfcc.int/files/meetings/cop_13/press/application/pdf/sekilas-tentang-perubahan-iklim.pdf

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!